Jumat, 21 Desember 2012

PERBEDAAN PEMUDA DULU DAN PEMUDA KINI


DULU, dengan gagah Bung Karno pernah berkata, “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia.”  Tetapi Sekarang, untuk, kalimat itu sedikit diubah menjadi, “Berikan aku sepuluh pemuda maka akan kubentuk BOYS BAND”.

Sebuah paragraf awalan yang bisa menjadi representasi dinamika dunia kepemudaan bangsa ini. Mewakili realita perubahan respons pemuda terhadap “tantangan zaman” yang sesungguhnya lebih luas dan signifikan. Bagaimana di era globalisasi ini tidak sedikit pemuda yang sudah berbeda GAYANYA dengan pemuda tempo doeloe. Pemuda di masa awal reformasi, orde baru, orde lama, atau bahkan masa penjajahan.

            jika dulu di masa penjajahan para pemuda rela mengorbankan harta, jiwa dan fikirnya untuk meledakkan gudang senjata Belanda atau menancapkan bambu runcing di dada penjajah Jepang, maka sekarang para pemuda juga rela memberikan segenap harta, jiwa, dan fikirnya untuk sekedar nyalon, nyanyi-nyanyi ga jelas atau bahkan nyabu. Memperkaya orang lain dan memiskinkan diri sendiri. Miskin harta, miskin ilmu, dan miskin moral. Perlu diketahui bahwa ada sebuah catatan luar biasa ketika pendapatan industri K-pop korea mencapai USD3,4 Miliar pada 2011 (CNBC.com), salah satu konsumen yang menyumbangkan angka tersebut adalah pemuda Indonesia. Lalu, untuk industri kebudayaan negeri sendiri, bagaimana?

Sekarang ini Sering terjadi Tawuran antar Pelajar, sering sekali juga terjadi tawuran antar Mahasiswa. Dua entitas ini, yang sering disebut Pemuda, yang seharusnya menjadi Garda kejayaan bangsa di masa yang akan datang, akhirnya perlu dipertanyakan!!!. Bila mengacu sejarah masa lalu bahwa Pemuda adalah Garda Terdepan dalam menyelesaikan persoalan kebangsaan hingga ke akar-akarnya dan bahkan merelakan segala-galanya demi Harga Diri Bangsa, Kedaulatan Bangsa maupun Kemerdekaan bangsanya. Dengan kata lain Pemuda adalah Harapan yang Nyata bagi perubahan Bangsa. Buktinya, Pemuda menjadi penghubung sejarah bangsa, pergerakan pemuda 1908, kemerdekaan 1945 hingga tumbangnya Era Otoritarian “Orde Baru” tahun 1998, merupakan bukti nyata peran para pemuda bagi angin perubahan di bangsa ini

NAMUN BAGAIMANA DENGAN PEMUDA SAAT INI??? Kenapa mereka seolah tidak peduli, atau mungkin mereka menganggab bangsa ini sedang baik-baik saja???. Persoalan kebangsaan di masa lalu memang berbeda dengan di masa sekarang, namun kenapa dimasa sekarang yang menyisakan sekian banyak persoalan para PEMUDA HANYA DIAM SAJA???.Lihat bagaimana NKRI mulai terkoyak, fundamentalisme agama seolah menjad wajar yang akhirnya menyuburkan sektarianisme dalam masyarakat, Hukum pun tidak pernah menjadi Panglima ia bahkan bisa dibeli, realita hukum saat ini yg ada dinegara kita bagaikan KAPAK semakin keatas semakin TUMPUL dan semakin KEWABAH semakin tajam, masyarakat lemah di babat habis dan kaum-kaum kapitalisme, masyarakat atas sekan kebal dengan Hukum. Di mata kuliah saya ada yg disebut mata kuliah “Hukum Bisinis” tetapi saya menyebutnya sebagai Bisinis Hukum krn sesuai dengan realita saat ini. Partai politik pun sudah jauh dari kepentingan rakyatnya, yang mereka perjuangkan hanyalah kepentingan golongan mereka, kalau pun ada janji-janji itu hanyalah sebatas lipservice saja.

Disisi lain, Kesedihan, Kemiskinan, penderitaan, ketidakadilan sosial, hanyalah Tontonan belaka, tanpa pernah ada solusi cerdas dari penyelengara negara ini baik dari tingkat terkecil hingga tingkat pusat, bahkan para kepala daerah yang seharusnya melayani masyarkatnya cenderung minim prestasi maksimal dalam meraup uang negara secara curang (korupsi), terbukti sudah mulai banyak masuk rumah pesakitan. Partai politik yang seharusnya menjadi harapan bagi perbaikan bangsa, pun sudah jauh dari kepentingan rakyatnya, yang mereka perjuangkan hanyalah kepentingan golongan mereka, kalau pun ada janji-janji itu hanyalah pada saat kampanye saja dan sebatas lipservice setelah mereka terpilih. Fenomena tersebut tengah melanda secara kronis negeri ini dimana bisa menimbulkan konflik yang meluas yang pada akhirnya bisa mengoyak simpul-simpul bernegara dan berbangsa. Atas situasi dan kompleksitas persoalan diatas, kenapa para PEMUDA sekarang masih tetap DIAM SAJA???

Patut di catat, terealisasinya sumpah pemuda atas dasar persatuan dan kesatuan bersama atas sekian perbedaan kepentingan Idiologi dan Politik. Sementara saat ini pemuda sulit menemukan peranannya ke inti persoalan masyarakat, selain disebabkan oleh kitidakmampuan para pemuda menentukan isu bersama serta polarisasi terhadap politik nasional. Dalam konteks ini, gerakan mahasiswa maupun pemuda berjalan sendiri-sendiri bahkan sudah menjadi bagian underbow dari suatu partai politik. Bagaimana mau melawan suatu kebijakan pemerintah sementara gerakan itu sendiri harus tunduk terhadap afiliasi diatasnya. Sehingga akan sulit menyatukan elemen gerakan pemuda dan mahasiswa maupun gerakan akar rumput itu sendiri, dan sepertinya ini sengaja di lakukan oleh para elite partai, sebab jika tidak,akan terjadi perlawanan yang massif, dan mereka sadar betul, bahwa gerakan mahasiswa dan pemudalah yang mampu meruntuhkan Tembok-Tembok kemapanan dari penyelenggaraan suatu negara dan kebijakannya.

Jadi tidak usah heran hak-hak publik (pasal 33 ayat 3) sudah diperjual belikan, seperti Air, Tanah bahkan Udara begitu juga dengan sektor pelayanan publik. Disisi lain kita kemudian menjadi pasar yang menjanjikan keuntungan besar bagi mereka dan tenaga kerja kita yang di upah murah. Tentunya situasi ini tidak hanya menguntungkan para Modal Internasional tetapi juga para anak bangsa (pejabat) yang memuluskan agenda tersebut dengan cara berselingkuh dengan para regulator (Pengusaha HITAM), itulah tiga musuh yang harus di LAWAN.

Mungkinkah melawan Kapitalisme Internasional? Kalau China dan Jepang bisa menelekung Kapitalisme Barat sehingga mereka mampu memposisikan bangsanya sebagai bangsa yang besar dan jaya, kenapa Indonesia tidak bisa???

Maka dari itu, WAHAI…PARA Pemuda bangsa, disegenap penjuru tanah air, KITA harus Tetap Berjanji dan Tak Pernah Urung Untuk Tetap memperbaiki situasi bangsanya dengan cara KITA sendiri. Kita tidak harus terlibat dalam partai Politik cukup mereka yang tertarik dibidang tersebut, namun kita bisa Berpolitik yang A-Politik dengan cara berprestasi dalam segala bidang. Bila kita disebut bodoh, kita buktikan melalui prestasi Akademik, sudah banyak para pelajar kita juara dunia melalui Olympiade Fisika, mahasiswa-mahasiswi yang lulusan luar-negeri, SDM-SDM yang cemerlang dan memiliki pekerjaan hebat di segala penjuru dunia. Kita bisa berprestasi melalui Olah Raga, Menumbuh-kembangkan Potensi Seni dan Ragam Budaya Kita yang Unik dan Eksotik dan beserta prestasi-prestasi lainnya. Disinilah para pemuda harus BERSATU PADU,dengan cara yang tepat menurut keyakinan mereka,  untuk kemudian menjalankan fungsi sejarahnya, yaitu tanggungjawab menentukan fakta masa lampau, untuk mengidentifikasi pilihannya pada masa kini dan memberikan arahan kemungkinan nyata bagi masa depan bangsa ini. Dan kita tunjukkan pada dunia bahwa kita adalah Bangsa Indonesia yang Besar , Berdaulat dan JAYA.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar